USIA 40 TAHUN HARUS MULAI LAKUKAN MAMOGRAFI

Deteksi kanker payudara memang harus dilakukan sedini mungkin. Pemeriksaan payudara sendiri (sadari) wajib dikerjakan rutin ketika usia menstruasi. Nah, bagi perempuan yang memasuki usia 40 tahun, pemeriksaan dengan alat mamografi harus mulai dilakukan, sementara jika berisiko tinggi (misalnya memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara), maka pemeriksaan mammografi dilakukan lebih awal yakni usia 25-30 tahun.

Panduan anyar yang dibuat American College Of Radiologi (ACR) dan Society Of Breast Imaging (SBI) dan dimuat Journal Of The American  College Of Radiology edisi Januari itu juga menyarankan penggunaan metode pencitraan yang tepat untuk skrening kanker payudara yakni magnetic resonance imaging (MRI), ultrasound, dan mammografi.

Sebelumnya panduan US Preventive Task Force yang dirilis tahun lalu menyarankan agar mammografi dimulai pada usia 50 tahundan diulangi setiap tahun.

Menurut periset Dr. Carol H. Lee, panduan baru skrening mammografi itu disusun berdasarkan temuan beberapa penelitian di Eropa dan Amerika Utara yang melibatkan sekitar 500 ribu perempuan. Hasilnya, bila mamografi dilakukan pada usia yang tepat, mampu mengurangi angka kematian akibat kanker payudara hingga 26%.

Lee mengingatkan bahwa mammografi adalah satu-satunya modalitas pencitraan yang terbukti ampuh mengurangi kematian karena kanker payudara. Kesuksesan mamografi juga terus berkembang dengan ditemukannya metode lain yang mendukung upaya deteksi kanker lebih dini.

Katanya angka pengurangan kematian akibat kanker payudara yang mendekati 30% sejak tahun 1990 merupakan sukses medis terbesar berkat meluasnya informasi mengenaideteksi dini kanker payudara dengan teknik mamografi. Bagi perempuan dengan risiko tinggi, tambah lee, skrening dengan mamografi teknologi baru telah diadopsi.

ACR menyebut bahwa rekomendasi yang dirilis Preventive Task Force, yakni skrining mamografi pada usia 50 tahun adalah sebuah kemunduran dan membahayakan kesehatan perempuan.

Selain mammografi, amunisi lain untuk memerangi kanker payudara juga berhasil disibak peneliti. Sebuah tes laboratorium seperti dimuat jurnal Cancer Prevention Research edisi Januari berhasil mengungkap bahwa buah pome mengandung zat kimia yang mampu menggerus risiko kanker payudara.

Zat dalam buah itu, ellagic acid, dapat menghambat aromatase, yakni enzim yang bertanggung jawab atas perkembangan kanker payudara.

Ahli kanker sekaligus peneliti Dr. Shiuan Chen mengaku terkejut dengan hasil temuan itu. Chen sebelumnya menemukan zat fitokimia di anggur juga mampu menghambat perkembangan aromatase.

Peneliti Dr. Gary Stoner, professor penyakit dalam di Ohio State Univercity mengatakan, perlu riset lanjutan untuk membuktikan temuan chen. Walau begitu, ujarnya, perempuan dapat saja makan lebih banyak buah pome untuk melawan perkembangan kanker payudara serta melindungi jaringan dan organ lain.

Iklan

KESIBUKAN BIKIN PEREMPUAN LUPA TES PAPSMEAR

Banyak ahli yang menduga bahwa perempuan enggan melakukan tes papsmear karena factor emosional. Misalnya karena malu atau takut, sehingga jumlah perempuan yang melakukan skrining dengan tes itu jadi kecil. Namun, temuan Journal Of Medical Screening edisi januari berkata lain. Ternyata, kesibukanlah yang membuat banyak perempuan melupakan tes yang amat penting tersebut. Apalagi, kesibukan itu terbanyak ditemukan pada perempuan usia produktif, yakni 26-44 tahun. Padahal, skrining dengan tes papsmear akan menyelamatkan jutaan nyawa perempuan setiap tahunnya di seluruh dunia dari kematian akibat kanker serviks.

Salah satu Negara maju dengan tingkat skrining yang masih rendah adalah inggris. Periset Dr. Jo Waller mengatakan, temuan itu menyiratkan agar hambatan dalam praktik klinis harus dihilangkan untuk memaksimalkan jumlah skrining.

Saran peneliti untuk mengurangi hambatan dalam praktik klinik adalah dengan membuka tempat praktik pada sore hari dan akhir pekan. Dengan begitu, perempuan yang tersita waktunya untuk tes papsmear karena kesibukan itu bisa meluangkan waktu.

Dalam sebuah riset terpisah di amerika serikat yang diterbitkan jurnal yang sama menyebut, hambatan perempuan untuk melakukan tes papsmear justru karena anak-anak.

Papsmear adalah pemeriksaan apusan dari mulut leher rahim untuk mendeteksi kelainan dalam mulut leher rahim, terutama kanker serviks.

Saat ini papsmear sudah menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Sebab, kini sudah diketahui infeksi human papiloma virus (HPV) yang tidak sembuh dan berkembang adalah penyebab kanker serviks.

Peneliti mengatakan, infeksi virus HPV terkait erat dengan hubungan seks. Jadi bagi perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seks kemungkinan bisa terpapar oleh infeksi virus. Sayangnya, kanker leher rahim memiliki gejala yang ringan bahkan tidak jarang tanpa disadari oleh penderitanya. Meski perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual kemungkinan jauh lebih kecil terinfeksi HPV-virus yang menyebabkan serviks, namun tetap wajib melakukan papsmear karena virus bisa datang darimana saja.

Problemnya meski papsmear memiliki keakuratan dalam deteksi dini kanker leher rahim, sepertinya hal tersebut tidak kunjung mengubah masyarakat untuk melakukannya.sampai detik ini masyarakat masih dihantui oleh mitos menakutkan seputar papsmear. Padahal kenyataannnya hal tersebut tidaklah benar. Justru pemeriksaannya tidak sakit, sangat mudah, relative murah dan tentu saja manfaatnya amat b

INILAH JAWABAN MENGAPA TIDUR MINIMAL HARUS 7 JAM

Tidur seharian pada hari sabtu setelah beberapa pecan sulit memejamkan mata mungkin bisa menyegarkan. Namun, tindakan tersebut keliru, sebab gangguan tidur kronik tak bisa disembuhkan dengan cara sederhana seperti itu. Para peneliti mengungkap bahwa gangguan tidur kronik yang tidak ditangani tepat berakibat pada lambatnya reaksi tubuh terhadap sesuatu.

Dengan kata lain, gangguan tidur kronik berdampak kuat terhadap aspek keselamatan. Gangguan tersebut tak hanya dialami para karyawan yang harus bertugas malam, namun juga populasi umum.

Peneliti di Harvard Medical School, Dr. Robert Cohen mengatakan, tetap terjaga selama 24 jam membuat fisik lemah. Efeknya, kemampuan bereaksi terhadap sesuatu berkurang hingga 10 kali lipat. Diperkirakan sekitar 1 dari 6 warga Amerika Serikat mengalami gangguan tidur kronik.

National Institutes Of Health di Amerika Serikat menyebut, pria dewasa membutuhkan tidur setidaknya 7-9 jam agar kesehatan tetap terpelihara. Kurangnya jumlah waktu tidur berisiko menggerus kesehatan, termasuk menurunnya daya ingat dan daya tahan tubuh. Hal yang lebih ditakutkan, kurang tidur membuat reaksi melamban. Hal itu dikuatkan oleh fakta bahwa sebagian besar pemicu kecelakaan lalu lintas disebabkan pengemudi mengantuk.

Riset terbaru yang dipublikasikan jurnal Science Translational Medicine edisi Januari mengungkap bagaimana gangguan tidur berdampak terhadap kemampuan otak. Riset itu, kata Shelby Freedman Harris, ahli gangguan tidur, jadi penting terutama bagi pekerja workaholic yang menganggap bahwa pekerjaan adalah segalanya tanpa memperdulikan waktu untuk istirahat dan tidur. Atau, kalaupun mereka tidur, hanya seperlunya saja.

Kata harris, jangan balas dendam dengan tidur seharian pada akhir pekan. Karena hal itu tak memberi manfaat apapun.

Dalam risetnya, Cohen memperhitungkan interaksi antara gangguan tidur akut dan kronik dengan ritme (irama) sirkadian alami tubuh, yakni jam biologis yang member sinyal kapan waktunya tidur dan kapan pula harus bangun.

Untuk itu, ia merekrut 9 orang sukarelawan dewasa, yang secara sukarela harus membuang pola tidur sehatnya selama 3 minggu. Para peserta itu dipaksa terjaga selama 33 jam kemudian tidur selama 10 jam.

Reaksi tubuh para peserta itu diuji setiap saat mereka terbangun, dan hasilnya dibandingkan dengan sukarelawan yang menjalani pola hidup normal.

Hasilnya dalam minggu pertama, fungsi tubuh memang masih normal. Namun, sejalan dengan lamanya waktu studi, fungsi dan reaksi tubuh akhirnya melambat. Artinya, kata Cohen, tubuh memang tidak bisa dipaksa untuk bekerja terus-menerus tanpa istirahat.

PEMBUNUH BERTOPENG LEMAK TRANS

Lemak trans memang terkenal jago menyumbat pembuluh darah. Sifat buruknya itu harus diwaspadai, terutama oleh kaum hawa dengan riwayat penyakit jantung, saran Dr. Stephanie Chiuve dari Harvard School Of Public Health, Boston.

Tak hanya meningkatkan kadar kolesterol jahat “LDL”, lemak trans juga menurunkan kadar kolesterol baik “HDL”. Tak heran, lemak yang banyak dikandung makanan siap saji dan gorengan tersebut dikatakan lebih berbahaya disbanding lemak jenuh dan dapat menyebabkan penyakit jantung koroner serta serangan jantung.

Namun, perihal apakah lemak trans dapat meningkatkan risiko meninggal seketika akibat serangan jantung, baru diketahui setelah Chiuve dan timnya mengamati sekitar 87000 perempuan AS selama 26 tahun.

Secara umum, lemak trans memang tidak terkait dengan risiko meninggal tiba-tiba akibat serangan jantung. Namun jika serangan jantung dialami oleh perempuan yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung, lain ceritanya, lansir American Heart Journal edisi November 2009.

KOLESTEROL MEMEGANG PERANAN PENTING

National Heart, Lung and Blood Institute menggagas suatu riset, Framingham Heart Study (FHS), yang melibatkan 6860 partisipan. Pada awal penelitian, rata-rata usia responden adalah 44 tahun dan tak seorang pun memiliki penyakit jantung koroner. Tetapi setelah ditelusuri selama 26 tahun, 680 partisipan mengalami gagal jantung.

Apa sebabnya ???setelah Dr. Daniel Levy dan kelompoknya menimbang factor usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, tekanan darah, kadar gula darah dan kebiasaan merokok, mereka menemukan bahwa risiko gagal jantung melonjak sekira 29 % bila kadar kolesterol jahat “LDL” tinggi, dan menurun sekitar 40 % bila kadar kolesterol baik “HDL” tinggi.

Tak hanya itu, tingginya kadr LDL juga meningkatkan risiko serangan jantung hingga 13 %, sementara tingginya kadar HDL menurunkan risikoserangan jantung sebanyak 25 %, catat Levy, kepala FHS, dalam jurnal Circulation edisi November 2009.

Kopi Untuk Diabetes

Menurut peneliti, rajin minum the atau kopi, setidaknya 3-4 cangkir, bakal memangkas risiko diabetes hingga 5 kali atau bahkan lebih. Efek itu bakal lebih besar jika minum kopi yang kadar kafeinnya telah dikurangi.

Diabetes tipe 2 biasanya mulai muncul pada usia 40 tahun dan berkembang ketika tubuh tetap memproduksi insulin, namun kadarnya tidak mencukupi atau insulin yang diproduksi tidak bekerja sesuai fungsinya.

Para peneliti mengatakan, identifikasi terhadap kandungan aktif di 2 minuman itu yang bertanggung jawab memotong risiko diabetes akan menjadi piliha terapi baru untuk penyandang diabetes. Jika temuan tersebut kembali terbukti oleh serangkaian riset lain, maka sudah sewajarnya dokter menyarankan agar orang yang berisiko tinggi untuk rajin minum the dan kopi, memperbanyak latihan fisik, serta memantau berat badan.

Setiap tambahan secangkir kopi dalam sehari, kata peneliti, akan mengurangi risiko diabetes hingga 7 %. Walaupun kata Dr. Rachel Huxley dari University Of Sidney, Australia, mayoritas riset yang dianalisis itu merupakan kopi tanpa kafein. Kandungan lain di kopi dan teh misalnya magnesium dan antioksidan semacam lignin dan asam klorogenik, diduga berperan menggerus risiko diabetes.

Huxley mengatakan identifikasi atas komponen aktif di kedua minuman itu akan membuka khasanah baru bagi pengobatan diabetes di lini primer. Ia menambahkan bila pada akhirnya memang benar terbukti, dampaknya akan sangat besar terhadap jutaan orang yang menyandang diabetes atau memiliki risiko tinggi terkena diabetes.

Menanggapi temuan itu, ahli diabetes Dr. Victoria King mengatakan, seharusnya riset tersebut menggali lebih jaunh mengenai factor lain yang mempengaruhi risiko diabetes tipe 2 pada para peserta, misalnya aktivitas fisik dan diet yang dilakukan serta komponen aktif di kedua minuman itu agar hasil penelitian tak diragukan keabsahannya.

Ia mengungkapkan apa yang selama ini diyakini adalah bahwa perkembangan diabetes tipe 2 terkait dengan gaya hidup. Artinya dalam beberapa kasus, diabetes seharusnya dapat dicegah dengan banyak melakukan aktivitas fisik serta diet seimbang, misalnya makan rendah lemak, garam, dan gula serta memperbanyak buah dan sayur.

Rutin Olahraga Jauhkan Stroke

Olah fisik berintensitas sedang hingga tinggi, seperti jogging, berenang atau tenis lapangan, mendatangkan manfaat luar biasa bagi pria lanjut usia. Sayangnya, Dr. Joshua Z. Willey dari Columbia Univercity Medical Center dan New York Presbyterian Hospital, Columbia, tidak menemukan kaitan serupa pada perempuan lanjut usia. Demikian tulis jurnal Neurology edisi November 2009.

Setelah mengamati sekitar 3300 laki-laki dan perempuan Manhattan lanjut usia-rata-rata 69 tahun-selama Sembilan tahun, willey dan kelompoknya mendapati bahwa kaum laki-laki yang rutin melakukan olahraga berintensitas menengah hingga tinggi 63% lebih terhindar dari ancaman stroke, dibandingkan sebayanya yang tidak aktif berolahraga. Pengaruh tersebut tidak terlihat pada responden perempuan.