Bukan Cuma Nikotin

Jika ancaman dari nikotin dan berbagai zat berbahaya belum cukup memotivasi anda untuk menghentikan kebiasaan merokok, maka anda patut menyimak penelitian yang disajikan oleh Amy R. Sapkota dan para koleganya dalam jurnal Environmental Health Perspective berikut ini.

Sapkota berhasil menemukan ratusan bakteri pada batang rokok, beberapa diketahui dapat menyebabkan penyakit pernafasan, infeksidarah dan paru, serta gangguan cerna.

Sapkota mengakui, penelitiannya baru berhasil menemukan jenis bakteri yang terkandung di dalam rokok, belum membahas gangguan yang mungkin timbul karena bakteri tersebut. namun demikian, risetnya itu sudah mencuri perhatian berbagai pihak, termasuk John L. Pauly, ilmuan dari Roswel Park Cancer Institute, yang penasaran menunggu pembuktian apakah bakteri dalam rokok bertanggung jawab menimbulkan penyakit paru, seperti penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit di rongga mulut.

Hubungan Romantis Meredam Rasa Sakit

para periset dari Univercity of California, Los Angeles, menuturkan, sakit fisik dapatberkurang bila pasien membayangkan orang yang dicintainya. tak heran, Naomi Eisenberger, asisten professor psikologi yang merangkap kepala Social And Affective Neuroscience Laboratory di UCLA, lantas menyimpulkan hubunga sosial dan emosional sangat penting.

eisenberger dan kelompoknya meneliti 25 perempuan muda yang tengah menjalani hubungan percintaan sehat selama minimal 6 bulan. selagi melihat foto dan kekasihnya, orang asing dan sebuah kursi, lengan atas mereka disentuhkan dengan benda yang cukup panas. ternyata para partisipan merasa rasa sakit berkurang saat melihat foto kekasih, eisenberger melaporkan hasil temuannya dalam jurnal Psychological sciences edisi November 2009.

melalui eksperimen lain, diketahui bahwa perempuan mengalami pengurangan rasa sakit saat menggenggam tangan kekasihnya, dibandingkan saat mengenggam tangan orang asing atau meremas sebuah bola.

Berita yang Dinantikan PENGGUNA PONSEL

pengguna ponsel boleh lega. pasalnya kelompok periset yang dipimpin oleh Isabelle Deltour dari Institute of  Cancer Epidemiology, Danish Cancer Society, kopenhagen, membuktikan bahwa penggunaan ponsel tidak menyebabkan kanker otak.

Deltour meninjau insidensi tumor otak selama tiga dekade terakhir di Skandinavia. hasilnya tidak ada perbedaan substansial pada angka insidensi tumor otak sebelum dan sesudah berkembangnya ponsel.

akan tetapi, Deltour tidak menutup kemungkinan peningkatan insidensi tidak begitu kentara lantaran penyebaran ponsel belum merata hingga beberapa tahun terakhir atau karena populasi yang diteliti terlalu terbatas. itulah sebabnya Deltour berencana untuk meneruskan penelitiannya, lansir Journal of the national cancer institute edisi desember 2009.

Kena Sindrom “Kaki Goyang”?? AWAS DISFUNGSI EREKSI

selama ini disfungsi ereksi (DE) kerap dikaitkan dengan penyakit diabetes atau hipertensi. kini, riset berhasil mengaitkan sindrom “kaki goyang” (restless lwg syndrome) pada laki-laki dengan DE. meski begitu, hubungan antar keduanya masih perlu diteliti lebih jauh.

periset Dr. Xiang Gao dari Harvard Univercity School Of  Public Health mengakui relasi antara sindrom tersebut dengan DE masih belum jelas. artinya, mana yang memicu lebih dahulu, apakah DE mengakibatkan sindrom itu atau sebaliknya.

namun, tambah Gao yang risetnya dimuat jurnal Sleep edisi januari, bila peneliti dapat memperjelas hubungannya, maka hal itu akan memacu pencarian terapi yang lebih efektif.

sindrom tersebut, ujar Dr. Robert Vorona, ahli gangguan tidur di Eastern Virginia Medical school, diderita oleh populasi yang cukup besar. dalam kasus yang lebih kecil, sindrom tersebut bakal menyebabkan insomnia dan konsekuensi serius lainnya.

penyebab sindrom tersebut masih jadi misteri hingga kini. tetapi, kata vorona, beberapa bukti menyebut bahwa sindrom “kaki goyang” dipicu berkuranganya kadar zat besi dan neurotransmitter yang disebut sebgai dopamin di otak. orang yang mengeluh mengalami gangguan neurologis biasanya tak dapat menahan desakan goyangan di kakinya.

dalam risetnya, Gao dan koleganya menyelidiki respons sekitar 23119 orang profesional medis yang berasal dari beragam profesi, dokter, farmasis, dan dokter hewan.

dari keseluruhan laki-laki yang ikut survei, 395 orang dilaporkan mengalami sindrom ‘kaki goyang” setidaknya 15 kali sebulan. mereka, dibanding peserta lain, cenderung memakai obat antidepresan dan merokok.

setelah pengolahan secara statistik untuk mengeliminasi pengaruh usia, ditemukan bahwa mayoritas penderita sindrom tersebut ternyata 2 kali lebih besar terkena DE. angka kejadian DE pada penderita sindrom itu tak berkurang.  meskipun peneliti telah menghilangkan faktor-faktor lain yang kemungkinan peneliti memang tak berhasil membuktikan apakah sindrom tersebut yang menyebabkan DE atau sebaliknya yakni DE yang memicu sindrom itu. namun, menurut peneliti, ada kemungkinan penyakit ketiga yang dapat  menjelaskan hubungan tersebut. maka, kata Gao, riset lebih lanjut diperlukan untuk mempertajam analisis yang telah mereka lakukan dan membuka misteri hubungan di antara keduanya.

Vorona mengatakan, gangguan tidur lain, yaitu Sleep Apnea juga terkait dengan DE.