Kena Sindrom “Kaki Goyang”?? AWAS DISFUNGSI EREKSI

selama ini disfungsi ereksi (DE) kerap dikaitkan dengan penyakit diabetes atau hipertensi. kini, riset berhasil mengaitkan sindrom “kaki goyang” (restless lwg syndrome) pada laki-laki dengan DE. meski begitu, hubungan antar keduanya masih perlu diteliti lebih jauh.

periset Dr. Xiang Gao dari Harvard Univercity School Of  Public Health mengakui relasi antara sindrom tersebut dengan DE masih belum jelas. artinya, mana yang memicu lebih dahulu, apakah DE mengakibatkan sindrom itu atau sebaliknya.

namun, tambah Gao yang risetnya dimuat jurnal Sleep edisi januari, bila peneliti dapat memperjelas hubungannya, maka hal itu akan memacu pencarian terapi yang lebih efektif.

sindrom tersebut, ujar Dr. Robert Vorona, ahli gangguan tidur di Eastern Virginia Medical school, diderita oleh populasi yang cukup besar. dalam kasus yang lebih kecil, sindrom tersebut bakal menyebabkan insomnia dan konsekuensi serius lainnya.

penyebab sindrom tersebut masih jadi misteri hingga kini. tetapi, kata vorona, beberapa bukti menyebut bahwa sindrom “kaki goyang” dipicu berkuranganya kadar zat besi dan neurotransmitter yang disebut sebgai dopamin di otak. orang yang mengeluh mengalami gangguan neurologis biasanya tak dapat menahan desakan goyangan di kakinya.

dalam risetnya, Gao dan koleganya menyelidiki respons sekitar 23119 orang profesional medis yang berasal dari beragam profesi, dokter, farmasis, dan dokter hewan.

dari keseluruhan laki-laki yang ikut survei, 395 orang dilaporkan mengalami sindrom ‘kaki goyang” setidaknya 15 kali sebulan. mereka, dibanding peserta lain, cenderung memakai obat antidepresan dan merokok.

setelah pengolahan secara statistik untuk mengeliminasi pengaruh usia, ditemukan bahwa mayoritas penderita sindrom tersebut ternyata 2 kali lebih besar terkena DE. angka kejadian DE pada penderita sindrom itu tak berkurang.  meskipun peneliti telah menghilangkan faktor-faktor lain yang kemungkinan peneliti memang tak berhasil membuktikan apakah sindrom tersebut yang menyebabkan DE atau sebaliknya yakni DE yang memicu sindrom itu. namun, menurut peneliti, ada kemungkinan penyakit ketiga yang dapat  menjelaskan hubungan tersebut. maka, kata Gao, riset lebih lanjut diperlukan untuk mempertajam analisis yang telah mereka lakukan dan membuka misteri hubungan di antara keduanya.

Vorona mengatakan, gangguan tidur lain, yaitu Sleep Apnea juga terkait dengan DE.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: